Tampilkan postingan dengan label kitab syekh siti jenar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kitab syekh siti jenar. Tampilkan semua postingan

Ajaran Manunggaling Kawula Gusti - Syekh Siti Jenar

Ajaran Manunggaling Kawula Gusti adalah konsep mensyiarkan agama islam ajaran dari Syekh Siti Jenar yang terbukti kesuksesannya dalam memberi daya tarik orang agar masuk agama islam. Baik dari rakyat jelata hingga para penguasa kerajaan majapahit tertarik untuk memeluk agama islam setelah diwejangkan konsep Ajaran Manunggaling Kawula Gusti oleh Syekh Siti Jenar. Jadi dengan sistem memberikan pola pikir pembaharuan yang pelan tetapi pasti, berikut ini wawancara kami dengan R.Tjakra Djajaningrat budayawan asal salatiga, mengenai leluhurnya terkait pemahaman Manunggaling Kawula Gusti, yang terbagi 2 konsep, yang pertama secara syariat istilah Manunggaling Kawula Gusti diterapkan oleh Syekh Siti Jenar.

Konsep Syariat Manunggaling Kawula Gusti
Konsep syiar ini banyak orang yang tidak mengerti, hanya memandang berpikir gebyah uyah-nya saja. Padahal Konsep Syariat Manunggaling Kawula Gusti adalah sistem politik yang tepat sasaran dan dapat diterima dengan akal sehat dalam mensyiarkan agama islam. Manunggaling Kawula Gusti jika ditilik dari secara syariat mengandung arti, Manunggaling = Bersatu, Kawula = Rakyat/ Wong Cilik dan Gusti = Penguasa/ Penggedhe. Jadi yang dimaksud bersatunya antara rakyat dan penguasa maka hidup akan diamis toto tentrem kerto raharjo. Yang rakyat menghormati penguasa, penguasa mikirin nasib rakyat, ibarat lidi yang diikat menjadi sapu lidi, pasti sanggup membersihkan kotoran yang ada. Lidi disebut juga sodo, maka jika orang mau memahami Manunggaling Kawula Gusti harus memiliki sodo. Sodo kiasan dari kalimasada yang diartikan orang harus masuk islam dengan membaca dua kalimat syahadat.

Dengan konsep syiar inilah yang membuat Syekh Siti Jenar sukses dalam mengislamkan orang-orang diera pemerintahan kerajaan majapahit. Dari berbagai kalangan mulai rakyat jelata, tokoh spiritual hingga pejabat keraton majapahit-pun masuk islam. Mengapapa demikan? secara konsep berbangsa dan bernegara Konsep Syariat Manunggaling Kawula Gusti tidak lain mirip dengan konsep Mahapatih Gajahmada yang mempersatukan nusantara ini di era kejayaan majapahit. Namun ada pula yang lain yakni Konsep Spiritual Manunggaling Kawula Gusti yang membuat tokoh agamawan, penganut kepercayaan jawa dan penggedhe keraton majapahit tertarik untuk mempelajarinya.

Konsep Spiritual Manunggaling Kawula Gusti
Ajaran Manunggaling Kawula Gusti dari Syekh Siti Jenar secara spiritual ada beberapa tahapan, namun pada dasar simplenya untuk meraih ngelmu kasempurnan orang harus mengolah dan menggembleng dirinya terlebih dahulu. Seperti halnya pola pikir atau cara pandang tokoh spiritual jawa kala itu, penuh tirakat tapa brata agar memiliki ilmu kanuragan, jayakawijayan, hingga kawaskitan (kebatinan). Cara pandang inilah yang di islamkan dan diberi solusi untuk mempermudah dalam mencapainya. Konsep Spiritual Manunggaling Kawula Gusti mengajarkan pada orang lebih menyatukan dirinya dalam olah cipta, rasa dan karsa dengan itu baru mengerti sejatinya hidup (mengenali jatidirinya) baru menyatukan diri dengan prestasi ibadah untuk menganal Allah. Man 'Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu. “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”.

Ajaran secara spiritual ini masuk akal jadi orang lebih mengenal islam dianggap memberi pencerahan, sebab cara budaya yang salah dibenahi atau dibetulkan kekliruannya. Tak heran Syekh Siti Jenar sukses mengislamkan lebih dari 50% orang-orang dibawah kepemimpinan kerajaan majapahit.

Walisongo bangga dengan Kesuksesan Syiar Islam Syekh Siti Jenar dengan Ajarannya Manunggaling Kawula Gusti, namun dari sisi lainnya visi dan misi-nya menjadi terganjal. Disinilah konflik dimulai, adanya pro kontra diantara walisongo. Namun kembali pada awal visi dan misinya didirikan dewan walisongo selain mensyiarkan islam dan mendirikan kerajaan islamdengan mendukung Raden Fatah menjadi raja pertama kerajaan islam di jawadwipa. Dengan hal itu Syekh Siti Jenar harus disingkirkan karena sebagai penghalang besar, jika majapahit menjadi islam tentu Demak Bintoro tidak bisa menjadi kerajaan islam. Kerajaan Demak harus berdiri sendiri tanpa bayang-bayang Majapahit.

Waspadai Aliran Sesat Syekh Siti Jenar

Waspadai Aliran Sesat Syekh Siti Jenar mungkin kata-kata ini pernah terdengar ditelinga anda atau terbaca oleh anda sekalian! Sebenarnya kata tersebut kurang pas, harusnya lebih diperjelas Waspadai Aliran Sesat Yang Mengatasnamakan Syekh Siti Jenar atau Waspadai Aliran Sesat Yang Membawa Nama Ajaran Syekh Siti Jenar. Mengapa demikian! Tentunya hal ini perlu kita sikapi bagaimana agar kita tidak terbawa arus menjalani sesuatu yang tidak kita pahami dengan benar yang mengatasnamakan kepopuleran salah satu waliyullah terutama Syekh Siti Jenar. Banyak orang mengaku ini itu demi keuntungannya sendiri memakai atribut aliran atau ajaran Syekh Siti Jenar. Jika Bang Roma yang bilang pasti sungguh TERLALU!!!
Syekh Siti Jenar merupakan waliyullah yang sampai saat ini masih diperdebatkan, dianggap kontroversi karena ada oknum yang memanfaatkan hal tersebut. Penulis buku Syekh Siti Jenar bikin cerita bikin kisah tentu harapannya bukunya laris terjual dipasaran. Dukun membuat merekayasa dapat wisik gaib dari Syekh Siti Jenar comot buku/primbon sana sini mengatakan ini wejangan Syekh Siti Jenar tentu harapannya agar dianggap sakti waskita, demikian juga kyai ustadz memakai atribut dan membicarakan Syekh Siti Jenar tentu agar menarik perhatian massa, juga orang-orang yang berkepentingan lainnya, bahkan orang non muslim memakai nama Syekh Siti Jenar untuk memikat orang agar tertarik masuk keranah mereka.
Banyak orang berpendapat ini itu dan tentunya syah-syah saja. Mau gimana lagi mau ngoceh mau nebeng nama Syekh Siti Jenar kan itu urusan guwe, ngapain lu ikut campur! Guwe kan biang kerok :D
Orang mudah sekali bilang Waspadai Aliran Sesat Syekh Siti Jenar, sebenarnya bukan ajarannya Syekh Siti Jenar yang sesat, tetapi oknum yang membawa atribut dan memakai nama Syekh Siti Jenar, baik itu dari aliran kepercayaan jawa yang dikenal kejawen maupun berbasis agama islam berbau tasawuf, ini yang perlu dipertanyakan kesesatannya dimana!
Memakai nama Syekh Siti Jenar tentu membuat daya darik tersendiri menggiring orang datang pada oknum tersebut, terlebih dikaitkan klenik berbau mistis pasti laku keras dipasaran, dan itu terbukti.
Orang sekarang memang pinter-pinter tapi sayang untuk minteri orang lain kerjaannya. Lagian orang di indonesia ini banyak yang bodoh dan mau dibodohi. Siapa yang pinter cari sensasi pasti yang dilihat publik, ini pun juga sangat terbukti, makanya pinter-pinter bikin pencitraan diri.
Syekh Siti Jenar tidak pernah bikin sensasi apalagi pencitraan dirinya, justru orang lain yang membuat pencitraan dirinya namun sayang dibbalik itu ada undang dibalik batu. Yang alim yang katanya ahli sunah wal jamaah langsung tuding itu sesat, yang sesat siapa dan apanya tidak diperjelas! Bodoh bin goblok sekali dia, jika ngomong aliran Syekh Siti Jenar sesat! bukan Syekh Siti Jenar maupun alirannya yang bener tapi orang yang membawa atribut dan nama besar Syekh Siti Jenar yang mengaku-ngaku alirannya itu yang patut dipertanyakan. Inilah orang bijaksana dalam berpikir dan menujukkan seorang muslim yang baik. Jadi jangan sampai salah kaprah dalam menilainya dan mengklaim sesatnya aliran atau ajaran Syekh Siti Jenar. Belajar sejarah dulu dan ambil segi positifnya, cuma modal baca buku yang tidak jelas itu yang nulis siapa langsung main sikat habis. Banyak bukti yang hilang terkait Syekh Siti Jenar, jadi seharusnya perlu diteliti kebenarannya, anak turunnya saja hanya mengetahui cerita secara turun temurun dan itu bisa diragukan, makanya cerita pada kami tidak berani memastikan kebenarannya, namun jika dipikir secara logika jika itu masuk akal tentu kebenaran bisa diterima.

Waspadai Aliran Sesat Syekh Siti Jenar, ini jelas salah!!!
Waspadai Aliran Sesat Yang Mengatasnamakan Syekh Siti Jenar, ini yang benar!!!
Waspadai Aliran Sesat Yang Membawa Nama Ajaran Syekh Siti Jenar, ini baru tepat!!!

Jadi bahasa harus jelas dan tegas, jika terkait kebenaran! Ada satu hadist terkan menyampaian kebenaran walau satu ayat, seperti hadist "Ballighuu 'anny walau ayah" بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah Dariku (yakni dari Rasulullah SAW) walau hanya satu ayat” (HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274)
Itupun tidak asal menyampaikan, karena sebelum menyampaikan kita harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Ilmu yang disampaikan haruslah shahih, yang berasal dari al-qur’an dan as-sunnah yang shahih, bukan hadits-hadits dhaif atau maudhu'.
2. Ilmu yang disampaikan harus disampaikan dengan pemahaman yang benar. Karena bisa jadi ilmu tersebut walaupun shahih, tapi ternyata kita tidak memahaminya seperti yang diinginkan Allah dan RasulNya.
3. Ilmu yang disampaikan hendaknya disertai penguasaan yang baik; yang kita harus benar-benar memahami Ilmu tersebut. Yang dengan penguasaan yang baik ini, kita bebas dari segala kerancuan/ kesalahpahaman/ kekeliruan terhadapnya. Penguasaan yang baik juga akan menjadikan kita berdiri diatas bayan (penjelasan) yang terang, jelas dan keyakinan (tanpa keragu-raguan dan kerancuan). Kita pun mengetahui jawaban-jawaban syubuhat yang berkaitan dengan hal tersebut, sehingga jika ada yang mendebat dengan syubuhat tersebut, maka kita dapat menjawabnya. Sehingga semoga kita dapat menjadi sebab hidayah kepada orang yang kita sampaikan.
4. Tidak lupa dan yang tidak kalah pentingnya, kita pun mengetahui maslahat dan mudharat dari penyampaian ilmu ini. Karena tidak setiap ilmu yang kita miliki harus kita sampaikan.

Maka jika ada -Satu saja- Ilmu yang kita miliki dan memenuhi kriteria diatas. Maka sampaikanlah, dan jika kita tidak memenuhi salah satu syarat diatas (atau bahkan tidak memenuhi syarat diatas), maka belajarlah terlebih dahulu. Janganlah semangatmu mendahului ilmumu!
Al-Qosim bin Muhammad berkata, “Termasuk bentuk pemuliaan seseorang terhadap dirinya yaitu ia tidak berkata kecuali sesuatu yang ia telah kuasai ilmunya” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 805)
Demikian semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan untuk teman-teman sekalian.

Suluk Akhir Jaman - Syekh Siti Jenar

Suluk Akhir Jaman merupakan wejangan atau kaweruh tanda-tanda akhir jaman. Mungkin bicara istilah suluk, apa arti suluk tahukah anda? Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.
Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik. Kata suluk dan salik biasanya berhubungan dengan tasawuf, tarekat dan sufisme.
Suluk Akhir Jaman - Syekh Siti Jenar untuk mengingatkan kita sesama orang muslim, agar kembali kejalan yang benar bukan saling salah menyalahkan, tetapi justru bersatu padu untuk terciptanya kerukunan demi keutuhan kaum muslim. Berikut ini Suluk Akhir Jaman - Syekh Siti Jenar dan artinya versi indonesia, jika ada yang tersinggung itu sudah sepantasnya, berarti anda memang demikian perilakunya, makanya harap kembali ke jalan yang benar.

Suluk Akhir Jaman:
"Jamane saiki jaman edan, okeh wong waras tapi kelakuane ngungkuli wong edan, ngaku wong pinter mung gawene minteri liyan, ngaku nduwe ngelmu tingkat kasepuhan asline mung dolanan sulapan, iki tondo akhire jaman, wong gampang ngedol iman mergo mikir uman, yen wes kumanan mikire eman, qur'an kadis mung ge kudung lan lamis, kapir ngapirke liyan kui wes dadi tondo kapire dewe, moso bodo o sing penting nduwe jeneng lan jenang, kalal karom rano bedane, yen kalal kanggone dewe, yen karom tudingke koncone, agomo mung kanggo alat ben nutupi mripat, katon agung katon alim sejatine zolim, ragat gowo klabi sorban lan sitik setitik mocone dalil agomo, ben disawang apik ben wong okeh kintil lan percoyo, sing sesat kui wong liyo, awak dewe sing bener calone suwargo, suwargo ndonyo kang pesti ono, suwargo akherat opo digayuh biso, yen anggowo jenenge walisongo sajake katon bedani, wong nuswantoro kui gampang diapusi gampang dibodoni, kui tondo akhire jaman, okeh sing ngaku wali ngaku nabi ngaku gusti, mulo siro kabeh kudu eling lan waspodo, ugo nyekel iman islam iksan bakal slamet ono hera herune jaman."

Artinya Suluk Akhir Jaman:
"Zaman sekarang zaman gila, banyak orang sehat tetapi perbuatannya melebihi orang gila, mengaku dirinya orang pinter kejaannya membodohi/mengakali orang lain, mengaku punya ilmu tingkat tinggi sebenarnya hanya bermain sulap/menipu/ trik saja, ini tanda akhir zaman, orang mudah menjual iman karena hanya berpikir mendapat materi, kalau sudah mendapatkannya tidak mau sedekah/ untuk dirinya sendiri, al quran hadist hanya buat kedok semata dan pura-pura dibicarakan, mengkafirkan orang lain sebenarnya itu tanda kafirnya dirinya sendiri, masa bodoh yang penting memiliki nama dan harta, hala haram sudah tidak ada bedanya, kalau halal itu anggapan/miliknya sendiri, kalau haram layak ditunjukkan orang lain, agama cuma alat untuk menutup mata orang, agar terlihat terpandang terlihat alim/ soleh walau aslinya perbuatannya zhalim, cukup memakai baju sorban dan sedikit-sedikit bacanya memakai dalil agama, biar terlihat baik biar orang banyak jadi percaya mau jadi pengikutnya, yang sesat itu orang lain, dirinya sendiri paling benar calonnya masuk surga, surga dunia yang pastinya ada, surga di akhirat apa bisa dicapainya, kalau membawa nama para wali sembilan agar terlihat beda lain dari yang lain, orang nusantara ini mudah dikibulin mudah ditipu, itu tanda akhir zaman, banyak yang mengaku dirinya wali,nabi bahkan tuhan, makanya kalian semua harus ingat dan waspada, serta berpegang teguh dengan iman, islam, ihsan agar selamat dalam hiruk pikuknya zaman."

Suluk ini ditulis untuk mengingatkan anda sekalian akan hiruk pikuknya zaman ini yang sudah banyak orang salah kaprah, orang mengaku beragama yang harusnya memberi rasa kedamaian kerukunan tetapi justru berperan dibalik layar membuat teror dan membuat aksi kerusuhan agar menguntungkan dirinya sendiri.
Paham panatisme ditanamkan orang pasti mudah diperdaya, namun jika paham nasionalisme yang ditanamkan orang pasti bagaimana berpikir hidup berbangsa dan bernegara agar adem tentrem/ damai sejahtera.

Kesalahkaprahan Mengenai Ajaran Syekh Siti Jenar

Kesalahkaprahan Mengenai Ajaran Syekh Siti Jenar terbukti adanya buku-buku yang beredar yang laris dipasaran karena membawa nama besar Syekh Siti Jenar yang dianggap kontroversi dalam menyampaikan ajaran agama islam. Dari kalangan tokoh kebatinan hingga tokoh agamawan sering memperdebatkan hal terkait Syekh Siti Jenar ini. Mana yang benar, mana yang salah!? Jawabnya Wallahu a'lam bish-shawab yang artinya “Dan Allah Mahatahu yang sebenarnya”.
Kesalahkaprahan Mengenai Ajaran Syekh Siti Jenar ini sudah terjadi selama berabad-abad jadi untuk mencari kebenaranya tentu sulit, karena minimnya data dan dokumen yang ada, adapun ditulis oleh orang yang kebenarannya disangsikan, baik sorog maupun suluk-pun masih disangsikan, apalagi karangan orang diluar kafir diluar Islam.
Kesalahkaprahan Mengenai Ajaran Syekh Siti Jenar sebenarnya bisa dinalar atau dilogika, tidak usah ngeyel diperdebatkan dengan pemahaman sendiri-sendiri cari jalan terbaiknya dengan pola pikir yang jernih, kata salah satu keturunan dari Syekh Siti Jenar. Jika mengklaim Ajaran Syekh Siti Jenar itu sesat lihat dulu sumbernya dari mana!? Buku apa dan kitab apa! Jika berpegang dengan Al Quran dan As sunnah-nya tentu orang bisa berpikir positif bukan meyakini buku atau kitab diluar Al Quran dan As sunnah, dengan itu pasti anda tidak sesat pikirannya dan tidak tersesat perbuatanya, ungkap R.Tjakra Djajaningrat.

Orang hanya bisa menuding dan menyalahkan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, ibarat klo berani ngomong dan ngoceh kan lebih terkenal/ populer dengan itu agar terlihat vokal, yang ngaku kyai, maupun ustadz ujungnya mengkafir-kafirkan saudaranya sendiri. Jika agama lain melihat, terutama nasrani pasti tertawa sersorak gembira bahwa domba-domba yang tersesat saling menghujat.
Jika berpikiran simple pasti tidak mudah terpecah belah, lihatlah dari sesama muslim (agama islamnya) jangan karena beda aliran beda pemahaman! Main tuding saling menyalahkan! Jika ada saudara muslim yang salah wajib diluruskan datangi diajak dialog agar silaturahmi terjalin sesama muslim dan mencari solusinya, bukan adu jotos perang sendiri-sendiri.

Kembali pada topik Kesalahkaprahan Mengenai Ajaran Syekh Siti Jenar, itu terjadi sebenarnya sama dengan konflik kejadian diera globalisasi ini. Toh sebenarnya para Walisongo tidaklah demikian, tidak menyatakan ajaran Syekh Siti Jenar itu sesat, namun kesalahannya Syekh Siti Jenar karena melawan ketentuan yang sudah disepakati bersama di dewan Walisongo dan menentang penguasa kerajaan Demak. Orang memakai ajaran Syekh Siti Jenar agar terlihat sakti, lebih tinggi tingkat spiritualnya,dsb. Bahkan yang parah memakai istilah ajarannya Manunggaling Kawula Gusti yang disesuaikan pola pikirnya sendiri dan jauh dari pemahaman aslinya yang lebih universal. R.Tjakra Djajaningrat sebagai keturunannya hanya bisa prehatin dengan semua itu. Beliau selama ini diam, dan karena desakan kami akhir sedikit mengungkapkan baik sejarah dan terkait bagaimana ajaran leluhurnya tersebut. Beliau juga berpesan saya tidak berani membanggakan leluhur-leluhur saya, jika saya sendiri tidak bisa dibanggakan, bagaimana tetap jadi diri sendiri itu yang terbaik bukan karena bayang-bayang keagungan nama leluhurnya.
Mengenai sesat atau tidak sesat dari ajaran Syekh Siti Jenar itu tergantung dari pemahaman anda masing-masing tentunya, namun jika anda membaca artikel ini tentu bisa meluruskan Kesalahkaprahan Mengenai Ajaran Syekh Siti Jenar yang selama ini diperdebatkan banyak orang yang tiada ujungnya.

Kesuksesan Syiar Islam Syekh Siti Jenar

Kesuksesan Syiar Islam Syekh Siti Jenar banyak orang tidak mengetahui, bahkan dilupakan! Syekh Siti Jenar merupakan salah satu anggota walisongo yang cerdas, pandai dalam segala bidang terlebih secara spiritual. Syekh Siti Jenar dikeluarkan dari keanggotaannya di walisongo bukan karena sesat tetapi karena kesuksesannya dalam mensyiarkan islam. Mengapa hal ini bisa terjadi! Syekh Siti Jenar mensyiarkan islam dari mulai wong cilik sampai wong gedhe (pejabat anggota kerajaan majapahit). Dengan menghapus sistem kasta secara perlahan inilah ajaran islam yang sesungguhnya, dimata Allah semua manusia sama. Jadi dengan sistem memberikan pola pikir pembaharuan yang pelan tetapi pasti, berikut ini wawancara kami dengan R.Tjakra Djajaningrat budayawan asal salatiga, mengenai leluhurnya terkait pemahaman Manunggaling Kawula Gusti, yang terbagi 2 konsep, yang pertama secara syariat istilah Manunggaling Kawula Gusti diterapkan oleh Syekh Siti Jenar.

Konsep Syariat Manunggaling Kawula Gusti
Konsep syiar ini banyak orang yang tidak mengerti, hanya memandang berpikir gebyah uyah-nya saja. Padahal Konsep Syariat Manunggaling Kawula Gusti adalah sistem politik yang tepat sasaran dan dapat diterima dengan akal sehat dalam mensyiarkan agama islam. Manunggaling Kawula Gusti jika ditilik dari secara syariat mengandung arti, Manunggaling = Bersatu, Kawula = Rakyat/ Wong Cilik dan Gusti = Penguasa/ Penggedhe. Jadi yang dimaksud bersatunya antara rakyat dan penguasa maka hidup akan diamis toto tentrem kerto raharjo. Yang rakyat menghormati penguasa, penguasa mikirin nasib rakyat, ibarat lidi yang diikat menjadi sapu lidi, pasti sanggup membersihkan kotoran yang ada. Lidi disebut juga sodo, maka jika orang mau memahami Manunggaling Kawula Gusti harus memiliki sodo. Sodo kiasan dari kalimasada yang diartikan orang harus masuk islam dengan membaca dua kalimat syahadat.

Dengan konsep syiar inilah yang membuat Syekh Siti Jenar sukses dalam mengislamkan orang-orang diera pemerintahan kerajaan majapahit. Dari berbagai kalangan mulai rakyat jelata, tokoh spiritual hingga pejabat keraton majapahit-pun masuk islam. Mengapapa demikan? secara konsep berbangsa dan bernegara Konsep Syariat Manunggaling Kawula Gusti tidak lain mirip dengan konsep Mahapatih Gajahmada yang mempersatukan nusantara ini di era kejayaan majapahit. Namun ada pula yang lain yakni Konsep Spiritual Manunggaling Kawula Gusti yang membuat tokoh agamawan, penganut kepercayaan jawa dan penggedhe keraton majapahit tertarik untuk mempelajarinya.

Konsep Spiritual Manunggaling Kawula Gusti
Ajaran Manunggaling Kawula Gusti dari Syekh Siti Jenar secara spiritual ada beberapa tahapan, namun pada dasar simplenya untuk meraih ngelmu kasempurnan orang harus mengolah dan menggembleng dirinya terlebih dahulu. Seperti halnya pola pikir atau cara pandang tokoh spiritual jawa kala itu, penuh tirakat tapa brata agar memiliki ilmu kanuragan, jayakawijayan, hingga kawaskitan (kebatinan). Cara pandang inilah yang di islamkan dan diberi solusi untuk mempermudah dalam mencapainya. Konsep Spiritual Manunggaling Kawula Gusti mengajarkan pada orang lebih menyatukan dirinya dalam olah cipta, rasa dan karsa dengan itu baru mengerti sejatinya hidup (mengenali jatidirinya) baru menyatukan diri dengan prestasi ibadah untuk menganal Allah. Man 'Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu. “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”.

Ajaran secara spiritual ini masuk akal jadi orang lebih mengenal islam dianggap memberi pencerahan, sebab cara budaya yang salah dibenahi atau dibetulkan kekliruannya. Tak heran Syekh Siti Jenar sukses mengislamkan lebih dari 50% orang-orang dibawah kepemimpinan kerajaan majapahit.

Walisongo bangga dengan Kesuksesan Syiar Islam Syekh Siti Jenar, namun dari sisi lainnya visi dan misi-nya menjadi terganjal. Disinilah konflik dimulai, adanya pro kontra diantara walisongo. Namun kembali pada awal visi dan misinya didirikan dewan walisongo selain mensyiarkan islam dan mendirikan kerajaan islamdengan mendukung Raden Fatah menjadi raja pertama kerajaan islam di jawadwipa. Dengan hal itu Syekh Siti Jenar harus disingkirkan karena sebagai penghalang besar, jika majapahit menjadi islam tentu Demak Bintoro tidak bisa menjadi kerajaan islam.

Keutamaan 7 Ayat Ummul Kitab

Keutamaan 7 Ayat Ummul Kitab pada kesempatan kali ini kita bahas untuk menambah wawasan dan memperkuat keimanan kita pada Allah SWT. Mungkin ada diantara kita tidak mengetahui apa itu 7 Ayat Ummul Kitab!
Mari kita bahas step by stepnya agar kita mengetahui dan memahami Ummul Kitab yang tidak lain adalah Surat Al Fatihah.

Surat Al-Faatihah itu mempunyai bermacam-macam nama, telah di terangkan dalam Al Hadits;
“Dari Abi Hurairah ra berkata: Rosulullah saw bersabda: ”Al hamdulillahi rabbil ‘alamiin adalah Ummul qur’an, Ummul kitab, Sab’ul matsani dan Al Qur’an Al ‘adzim. (HR. At Tarmidzi).

1. Surat Al- Faatihah.
Kata “Al-Faatihah” berasal dari kata “fataha” yang berarti “membuka” atau “memulai”, berarti pengertian Al-Faatihah adalah “Pembukaan” atau “Permulaan”. Mengapa Surat ini dinamai “Al Faatihah” ? Karena dengan surat ini Al-Qur’anul Karim di buka. Artinya adalah dengan surat ini, berarti telah dimulai bentuk susunan surat-surat dalam Al-Qur’an secara tertib dan urut. Adapun meletakkan surat Al-Fatihah pada permulaan Al-Qur’an adalah bersifat Tauqifi artinya sesuai dengan perintah Allah lewat Malaikat Jibril yang langsung kepada Nabi Muhammad saw.

2. Ummul Qur’an atau Ummul Kitab.
Selain nama “Al-Faatihah”, surat ini juga dinamai dengan “Ummul Qur’an” artinya sebagai Induk Al Qur’an, atau “Ummul Kitab” sebagai Induk Al Kitab. Mengapa Surat Al Faatihah dinamai “Ummul Qur’an atau “Ummul Kitab” ? Karena Al-Fatihah merupakan induk, pokok atau basis bagi Al Qur’an secara keseluruhan. Artinya, bahwa Surat Al Faatihah mengandung pokok-pokok isi Al Qur’an.

3. As Sab’ul Matsaani.
Surat Al-Faatihah juga dinamai “As Sab’ul Matsaani” (tujuh yang berulang-ulang). Dinamai demikian, karena ayatnya berjumlah tujuh ayat dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.
Selain nama-nama tersebut masih ada beberapa nama lagi. Bahkan dalam Tafsir Ash Shaawi jilid IV hal 371 Cetakan Bairut diterangkan, “Nama Al Faatihah merupakan salah satu dari 20 nama”. Namun nama-nama lain itu tidak perlu disebutkan di sini.
Surat Al-Faatihah diturunkan di Mekah, jadi termasuk surat-surat Makiyyah. Diturunkan di waktu shalat, mula-mula disyariatkan dan diwajibkan membacanya di dalam shalat. Oleh karena itu, ia adalah surat yang pertama diturunkan dengan lengkap. Di dalamnya terdapat kesimpulan dari isi keseluruhan Al Qur’an seperti telah disebutkan diatas. Adapun jumlah ayat dalam surat Al Faatihah ada tujuh.

Pokok Isi Al Qur’an
Telah disebutkan di atas, bahwa Surat Al-Faatihah merupakan basis Al- Qur’an seluruhnya. Di dalam Surat Al-Faatihah terdapat kesimpulan atau intisari isi Al Qur’an.
Al Qur’an diturunkan pada saat umat manusia diseluruh penjuru alam ini sangat membutuhkan tuntunan atau hidayah, yang dapat di jadikan pegangan hidup dan dapat menunjukkan mereka kepada ketenteraman jiwa dalam menghadapi segala segi hidup dan kehidupan.
Sebagai karakteristik jiwa manusia adalah selalu merasa tidak puas dengan setiap keadaan, malah seringkali tidak menginginkan keadaan yang kondusif berlaku dalam masyarakat. Pada saat itu, di seluruh penjuru dunia telah terjadi dekadensi moral, dengan mengesampingkan norma agama dan nilai-nilai moralitas, sehingga porak porandalah tatanan kehidupan dan hancurlah peradaban manusia berkeping-keping menjadi suatu keadaan yang tidak beradab, dan jauh dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan yang hakiki. Keyakinan dan kepercayaan mereka telah berpaling dari selain Allah dan tidak menghiraukan lagi perintah dan anjuran Rasulnya. Mulai dari para Raja, pemimpin suku dan adat serta para pemimpin kabilah mempunyai kekuasaan yang mutlak, otoriter dan penindas. Perilaku dan akhlak mereka serta tindakan-tindakannya selalu bertentangan dengan peri kemanusiaan. Mereka telah lupa kepada ajaran-ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasulnya pada saat itu, yaitu sebelum datangnya Nabi Muhammad saw.
Maka, kedatangan Al Qur’an adalah untuk memenuhi tuntutan jiwa mereka yang kering dan haus dari nilai-nilai spritual. Mereka ingin melepas belenggu kepercayaan yang menyesatkan, mereformasi hukum dan peraturan adat istiadat yang penuh dengan kurafat, dan merubah tradisi serta dongeng-dongeng yang penuh dengan tahayul dan kebohongan. Sehingga sudah tidak relevan lagi dengan akal dan pikiran yang selalu berkembang dinamis dan kontekstual.
Untuk memenuhi aspirasi hati dan gejolak jiwa yang telah lama terpendam oleh tradisi dan budaya jahiliyah. Maka, Al Qur’anul datang dengan membawa ajaran tentang keimanan yang terlepas dari kesyirikan, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, persamaan hak dan keadilan. janji-janji dan ancaman-ancaman Allah bagi yang beriman dan yang ingkar, serta kisah-kisah tentang umat-umat terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran dan i’tibar, agar dapat hidup aman dan tenteram bahagia dunia dan akhirat.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam yang senantiasa memberi banyak kenikmatan. Sholawat serta salam kita tujukan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang sangat kita harapkan syafaatnya di hari akhir nanti.
Surat Al Fatihah termasuk dalam surat makkiyah yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Al Fatihah merupakan surat pertama dalam Al Qur an atau disebut sebagai surat pembuka. Surat Al fatihah Terdiri dari atas 7 ayat. Hafal terhadap surat Al Fatihah merupakan kewajiban seorang setiap orang yang mengerjakan ibadah sholat, baik ketika sholat sendiri, atau sebagai makmum ataupun sebagai Imam harus mengerti dan paham Surat Alfatihah. Karena jika tidak membaca surat Al Fatihah maka sholatnya tidak sah.
Nabi kita, sang suri tauladan kita yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ
Artinya :
“Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]

Surat Al Fatihah dan Maknanya

Bagi kamu yang ingin memahami surat Al Fatihah lebih dalam, di bawah ini kami sajikan surat Al Fatihah dalam bahasa arab dan juga latin lengkap dengan terjemahan dan penjelasan makna lebih dalam. Semoga Alloh SWT mengizinkan kita memahami ayat-ayat suci di bawah ini :
1.    Al-Fatihah Ayat 1
Latin : Bismillah Hirrahman Nirrahim
Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Maksud dari ayat pertama ini adalah : saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, mulai dari pekerjaan ringan seperti makan, minum, bepergian, belajar, dan sebagainya. Allah adalah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
2.   Al-Fatihah Ayat 2
Latin : alhamdu lillaahi rabbil aalamiina
artinya : Segala puji {2} bagi Allah, Tuhan semesta alam. {3}
Maksud ayat kedua surat Al Fatihah adalah : {2} Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
{3} Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafadz “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia,alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.
3.  Al-Fatihah Ayat 3
Latin : arrahmaanirrahiim
Artinya : Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Untuk ayat ketiga dalam surat Al FAtihah ini maksudnya hampir sama dengan ayat pertama,  Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
4.  Al-Fatihah Ayat 4
latin : maaliki yawmiddiin
Artinya : Yang menguasai {4} di Hari Pembalasan {5}
{4 }Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan “mim”, yang berarti: pemilik. Dapat pula dibaca dengan (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
{5} Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.
5.  Al-Fatihah Ayat 5
latin : iyyaaka na’budu wa-iyyaaka nasta’iin
Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah {6}, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. {7}
{6} Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
{7} Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
6.  Al-Fatihah Ayat 6
Latin : ihdinaash shiraathaal mustaqiim
Artinya : Tunjukilah [8] kami jalan yang lurus,
[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata “hidayaat”: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.
7.  Al-Fatihah Ayat 7
Latin : shiraathalladziina an’amta ‘alayhim ghayril maghdhuubi ‘alayhim walaadhdhaalliin
Artinya : (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. {9}
{9} Yang dimaksud dengan “mereka yang dimurkai” dan “mereka yang sesat” ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Khasiat Surat Al Fatihah

Diantara khasiat Fatihah ialah siapa yang membaca 'Al-Fatihah' diwaktu hendak tidur, Surah 'Al-Ikhlas' sebanyak 3 kali dan Mu'awwidzatain maka ia akan aman dari segala hal selain ajal. Dan siapa berhajat (berkeinginan sesuatu) kepada Allah s.w.t.maka olehnya dibaca surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali diantara sembahyang sunat Subuh dan sembahyang fardu Subuh sampai 40 hari (tidak Lebih) kemudian memohon kepada Allah s.w.t. maka Insyaallah ia penuhi keperluan hidupnya.

-Barangsiapa membaca Fatihah berserta Bismillah diantara sunat Subuh dan fardu Subuh dengan Istiqomah maka kalau ia inginkan pangkat terkabullah ia dan kalau ia fakir maka akan kaya serta jika ia punya hutang maka mampu membayanrnya dan kalau ia sakit maka akan sembuh serta kalau ia punya anak maka anaknya itu menjadi anak yang soleh, berkat surah Al-Fatihah.
-Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah sebanyak 20kali setiap selesai sembahyang fardu lima waktu maka Allah s.w.t. luaskan rezekinya, baiki akhlaknya, mudahkan urusannya, hilangkan keperihatinannya dan kesusahannya, anugerahkan apa yang ia angan-angankan, dapatkan berbagai berkat dan kemuliaan, jadikan ia berwibawa, berpangkat luhur, berpenghidupan baik dan ia pula anak-anaknya terlindung dari kemudharatan dan kerosakan serta dianugerahkan kebahagiaan dan sebagainya.
-Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah sebanyak 125 kali selesai sembahyang Subuh maka ia peroleh maksudnya dan ia ketemukan apa yang dicari-cari serta sebaiknya ia panjatkan doa yang bermaksud:
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran Surah Al-Fatihah dan rahsianya, supaya dimudahkan bagiku semua urusanku, sama ada urusan dunia atau urusan akirat, supaya dimakbulkan permohonanku dan ditunaikan hajatku..........."
-Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah diwaktu sahur (tengah malam) sebanyak 41 kali maka Allah s.w.t.bukakan pintu rezekinya dan Dia mudahkan urusannya tanpa kepayahan dan kesulitan. Selesai bacaan Al-Fatihah tersebut dan sebaiknya berdoa:
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran surah Al-Fatihah dan rahsianya, supaya Engkau bukakan bagiku pintu-pintu rahmatMu, kurnia-Mu dan rezeki-Mu. Dan Engkau mudahkan setiap urusanku, murahkanlah bagiku rezekiMu yang banyak lagi berkat tanpa kekurangan dan tanpa susah payah, sesungguhnya Engkau berkuasa atas setiap sesuatu. Aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran surah Al-Fatihah dan rahsianya, berikan apa yang kuhajati........"

Semoga artikel islami yang berisi mengenai terjemahan surat Al Fatihah dan khasiatnya beserta maksudnya di atas bisa bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah senantiasa memberi kita ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan Akhirat, dan melindungi kita dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat dan menyesatkan. Aamiin.

Dari berbagai sumber

Benarkah Kitab Syekh Siti Jenar Itu Kitab Ilmu Paling Ampuh?

Benarkah Kitab Syekh Siti Jenar Itu Kitab Ilmu Paling Ampuh?  Lalu kitab apakah itu? Kitab ilmu gaibkah! Kitab tasawufkah! Kitab Serat dan Suluk kah! atau kitab yang lain? Hal ini yang terkadang terbesit dalam pikiran anda, karena anda banyak berpikir yang jauh kearea mitos atau cerita rakyat yang menjelaskan ini itu, tak heran jadi suatu hal yang kontroversi terkait dengan Syekh Siti Jenar. Orang mencoba menguaknya akan tetapi bukan menguak dari hasil penelitian tetapi mengarang cerita yang akhirnya disebar luaskan.
Bahkan terkait ajarannya Manunggaling Kawula Gustipun beredar berbagai versi pola pikir pemahaman yang berbeda, ada yang sesat menyesatkan akhir dituding sesat, ada yang menjabarkan secara logika dan masuk akal sesuai akidah yang benar agar orang tercerahkan (diluruskan pemahamannya). Lalu siapa yang benar siapa yang salah, jika hal itu dipertanyakan kembali pada pendapat anda masing-masing. Namun jika anda berpikir dan sedikit mau memahami, karena pola pikir orang yang berbeda tersebut yang disalahkan siapa? Pasti nama yang dipakainya yakni Syekh Siti Jenar! Dan yang dianggap sesat itu siapa? pastinya juga Syekh Siti Jenar! bukan orang-orang yang menulis sesuai dengan pola pikirannya masing-masing tersebut. Buku yang beredar hanya sekedar pendapat saja dari penulis, sejarah kebenarannya masih 99% dipertanyakan! Kontroversi Syekh Siti Jenar sebenarnya kita sendiri yang membuatnya, bahkan jika Syekh Siti Jenar saat ini masih hidup mungkin hanya tersenyum dan bilang sakareplah meh muni opo!
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas dan mengupas tuntas berdasarkan pendapat saya pribadi untuk menjawab pertanyaan Benarkah Kitab Syekh Siti Jenar Itu Kitab Ilmu Paling Ampuh? Jawab saya 100% menyatakan benar. Kitab Syekh Siti Jenar Itu Kitab Ilmu Paling Ampuh! yang dimaksud sebuah Kitab yang dijadikan pedoman Syekh Siti Jenar secara johir bathin juga dalam mensyiarkan menyebarkan agama islam waktu itu. Lalu kitab apakah itu? Kitab ilmu gaibkah! Kitab tasawufkah! Kitab Serat dan Suluk kah! atau kitab yang lain? Jawabnya kitab yang lain sebab kitab yang disebutkan hanya bumbu, yang utama adalah kitab induknya! Kitab yang menjadi pedoman Syekh Siti Jenar adalah Al Quran, baru Hadish dan kitab lainnya yang dipelajari beliau sehingga memiliki wawasan yang luas dan menjadi orang yang handal dalam mensyiarkan ajaran agama islam.

Apakah hidup itu? Keberadaan manusia di dunia ini dan penciptaan seluruh alam semesta ini bukan secara kebetulan atau hasil alam secara kebetulan saja. Alam semesta ini, setiap atom yang tunggal menunjukkan dan menuntun kita kepada cinta yang sesungguhnya, kemurahan hati, dan kekuatan sang pencipta. Tanpa adanya pencipta, tidak ada sesuatu pun yang bisa eksis. Setiap jiwa itu mengetahui bahwa keberadaannya itu tergantung kepada Sang Pencipta. Dia tahu dengan pasti bahwa dia tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Oleh karena itu, menjadi kewajibannya untuk mengetahui Tuannya yaitu Sang Pencipta.

MANUSIA: Manusia adalah makhluk yang unik. Tuhan memberikan manusia kemampuan untuk memerintah semua makhlukyang lain di dunia ini. Dia membantu dengan memberi kemampuan mempertimbangkan yang lengkap dibandingkan dengan binatang. Dengan kemampuan untuk melihat dan membedakan, manusia diberi kebebasan sendiri untuk memilih jalan hidup yang pantas bagi kedudukannya, apakah dia jatuh lebih rendah daripada binatang atau ciptaan yang lain. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan diberi pilihan untuk mengerjakan perbuatan yang pantas atau memperturutkan hatinya yang menuju ke limbah dosa.

PETUNJUK TUHAN : Sang Pencipta, di luar dari cinta-Nya yang berlimpah dan kemurahan-Nya untuk manusia, tidak meninggalkan kita dalam kegelapan untuk mengetahui garis kebenaran dengan mencoba dan bersalah sendiri. Berhubungan dengan kemampuan intelektual kita untuk mempertimbangkan, Pencipta kita memberikan kita petunjuk ketuhanan bahwa garis besar kriteria kebenaran, ilmu pengetahuan, dan realitas keberadaan kita di dunia dan di akhirat.

WAHYU : Dari awal manusia, Sang Pencipta kita mengutus nabi untuk menyampaikan wahyu-Nya dan mengajak manusia untuk mengikuti garis perdamaian yang benar dan taat kepada Tuhan yang satu. Inilah Islam. Inilah pesan yang disampaikan untuk generasi manusia yang berturut-turut melalui nabi yang berbeda beda, untuk mengajak seluruh umat manusia kepada garis edar yang sama. Akan tetapi seluruh pesan yang awal atau wahyu dari Allah itu diubah oleh orang-orang generasi setelahnya.

Sebagai hasilnya, wahyu yang suci yang berasal dari Sang Pencipta itu dicampuri dan dikotori dengan cerita yang dibuat-buat, takhayul, menyembah berhala dan ideologi fllosofis yang tidak rasional. Agama Allah dalam pengertian hilang dalam agama yang berlebihan. Sejarah manusia adalah sebuah perjanjian dari penyimpangan manusia antara terang dan kegelapan, tetapi Allah di luar cinta-Nya yang melimpah untuk manusia tidak mengabaikan kita.

WAHYU TERAKHIR: Ketika manusia berada dalam masa kegelapan, Pencipta kita mengutus Rasul-Nya yang terakhir, Nabi Muhammad SAW untuk menyelamatkan manusia dengan wahyu yang terakhir sebagai sumber petunjuk terakhir dan permanen untuk seluruh dunia.

BUKTI KEBENARAN: Kriteria berikut dapat paling berguna sebagaimana ukuran untuk mengetahui wahyu terakhir yang autentik (al-Quran) sebagaimana firman Allah SWT:1. Ajaran yang rasional: Karena Pencipta kita memberikan pertimbangan dan intelektual kepada kita, inilah kewajiban kita menggunakannya untuk membedakan kebenaran dari kebohongan. Sungguh, wahyu itu dari Allah, pasti rasional, dan dapat dirundingkan tanpa ada pikiran yang memihak.
2. Kesempurnaan: Karena Pencipta kita itu sempurna, wahyu-Nya pasti sempurna dan akurat, bebas dari kesalahan, kelalaian, penambahan/interpolasi dan versi yang bermacam-macam. Pasti bebas dari kontradiksi dalam penyampaiannya.
3. Tidak ada cerita yang dibuat-buat atau takhayul: Wahyu yang benar bebas dari cerita yang dibuat-buat atau takhayul yang menurunkan martabat Sang Pencipta atau diri manusia.
4. Ilmiah: Karena Sang Pendpta kita adalah Pencipta seluruh ilmu pengetahuan, wahyu yang benar pastl ilmiah dan dapat bertahan terhadap tantangan ilmu pengetahuan di setiap saat.
5. Ramalan yang berdasarkan fakta: Karena kita mengetahui sejarah masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang, maka ramalan-Nya dalam wahyu-Nya dimasukkan sebagai ramalan.
6. Tidak dapat ditiru manusia: Wahyu yang benar adalah sempurna dan tidak dapat ditiru manusia. Wahyu Allah yang benar adalah keajaiban yang hidup, sebuah kitab yang membuka tantangan manusia untuk melihat dan membuktikan kepada diri mereka sendiri keautentikannya / keasliannya atau ketelitiannya.

Benarkah Syekh Siti Jenar Mengajarkan Ilmu Kejawen?

Benarkah Syekh Siti Jenar Mengajarkan Ilmu Kejawen?
Mungkin banyak orang yang tidak mengerti atau tidak tahu menahu soal bab ini. Di era masa islam masuk ke tanah jawa, orang jawa sudah memiliki suatu aliran kepercayaan dari leluhurnya yakni dari keilmuan dan kebatinan yang diturunkan dari sang pendiri tanah jawa yaitu Sri Baginda Prabu Aji Saka. Orang jawa meyakini bahwa untuk berhubungan dengan Sang Hyang Maha Kuasa diperlukan suatu ritual kebatinan. Bahkan dikalangan orang awam tersesat menyembah pohon/ batu/ dsb sebab para Resi atau kalangan brahmana enggan mengajarkan keilmuannya pada golongan kelas rendah. Di jaman itu golongan kasta masih berlaku dengan kental di masyarakat jawa.
Banyak orang sakti mandraguna di jaman itu, namun banyak yang bersekutu dengan bangsa jin atau dedemit. Melihat hal itu Syekh Siti Jenar ingin meluruskan kesalah pahaman pola pikir masyarakat yang sering beliau temui dan mensyiarkan ajaran agama islam. Dengan hal itu Syekh Siti Jenar mengajarkan suatu konsep budaya yang disisipi nilai agama untuk syiarnya, yaitu mantra jawa yang di islamkan disisipi dan diganti dengan doa dari ayat suci Al Quran. Sehingga dikalangan masyarakat jawa dikenal dengan islam abangan.  Pemahan ilmu sedulur papat lima pancer dikalangan ilmu kejawen merupakan suatu hal yang sangat inti bagaimana seseorang mengenali jati dirinya dan suatu cara mewujudkan suatu keinginan menjadi kenyataan dalam permohonannya pada Sang Pencipta. Oleh Syekh Siti Jenar dijelaskan lebih nalar dan tidak perlu dengan ritual yang rumit, cukup melafalkan dua kalimat syahadat (kalimosodo) dan doa yang dipetik dari ayat Al Quran serta permohonannya dengan lafal kejawen, dengan penerapannya lebih simple dengan pemahaman yang mudah dipahami berbagai kalangan tanpa membedakan status sosialnya (menghapus istilah kasta).
Keilmuan sedulur papat lima pancer dari ajaran Syekh Siti Jenar jika dikuasai bisa untuk berbagai keperluan, baik urusan duniawi maupun kesaktian, tak heran banyak orang belajar pada beliau, sebab sesaji dan ritual yang ribet dihilangkan dan disederhanakan cukup diganti dengan syahadat panatagama. Syekh Siti Jenar konon berbagi kaweruh pada Sunan Kalijaga agar kelak keilmuan ini sebagai piandel syiar mengislamkan orang jawa yang secara turun temurun meyakini konsep keilmuan sedulur papat lima pancer. Banyak orang salah kaprah tentang ilmu sedulur papat lima panceryang disisipi beragam amalan dan doa mantra disertai ritual yang neko-neko.
Bahkan wejangan untuk pemahamanpun disesuaikan pola pikir cara pandang dari guru-guru kejawen yang berbeda yang akhirnya dicampur aduk dioplos yang justru membingungkan orang. Tak heran ilmu sedulur papat lima pancer banyak perguruan menawarkan pengisian/ pembangkitan dengan istilah yang beragam. Ilmu sedulur papat lima pancer sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, jika anda memiliki kuncinya maka bisa anda terapkan untuk berbagai keperluan, baik secara kebutuhan duniawi dalam membantu urusan rejeki, jodoh, cinta, dsb, bahkan untuk keperluan secara spiritual seperti menguasai ilmu gaib secara laduni, menembus dimensi, deteksi, indera ke-6, dsb. Untuk menguasai hal ini tentunya perlu bimbingan dari seorang guru yang mumpuni dan memahami benar bagaimana keilmuan tersebut.
Kesaktian Syekh Siti Jenar dalam bab ilmu sedulur papat lima pancer yang simple, seperti yang diajarkan Sunan Kalijaga pada Jaka Tingkir. Tak heran Raja Pajang tersebut terkenal sakti mandraguna, dan mampu menyerap berbagai keilmuan kanuragan dengan cepat sewaktu berkelana ngulang kaweruh. Suatu keilmuan jangan hanya disuguhi sesuatu yang dibilang katanya, ada wajib merasakan dan yang harus membuktikan potensi keilmuan tersebut yang diaplikasikan (materi langsung praktek).
Banyak perguruan dan paranormal menyuguhkannya justru dengan atraksi sulap, permainan debus, dsb. Hal ini yang membuat orang kecewa dalam belajar keilmuan gaib, wajar karena salah tempat dan tidak mendapat bimbingan dari seorang guru yang tepat. Ilmu sedulur papat lima pancer dijaman sekarang memang suatu hal yang langka, orang mempelajari dari kitab primbonpun dijamin tidak akan bisa justru siting yang bisa didapati, karena bukan sedulur papat lima pancer tetapi ilmu dari bangsa jin atau dedemit. Inilah yang dahulu diluruskan dan diajarkan oleh Syekh Siti Jenar juga Sunan Kalijaga agar orang tidak tersesat dengan pemujaan pada bangsa jin, cukup memahami dan mempelajari serta menerapkan keilmuan sedulur papat lima pancer atau ruhaniyah pribadi sehingga tidak perlu bantuan jin atau dedemit manapun untuk meraih tujuannya. Mutlak keilmuan murni dari dalam diri kita sendiri atas kuasa dan ijin Allah SWT maka semua akan terjadi/ terwujud. Jika anda ingin belajar keilmuan sedulur papat lima pancer yang original silahkan datang langsung dan konsultasikan DISINI, jangan mencari ilmu katanya tapi anda sendiri yang harus merasakannya, menerapkannya, mengaplikasikannya, anda akan mendapat bimbingan secara langsung dari seorang guru ilmu kebatinan/ kasepuhan kejawen yakni R.Tjakra Djajaningrat. Ilmu sedulur papat lima pancer itu ada karena anda ada, selagi anda masih hidup tentu anda bisa memanfaatkannya, tidak ada pantangan, tidak ada efek samping sebab bukan ilmu dari jin, murni ilmu memanfaatkan potensi ruhaniyah pribadi anda sendiri. Jika paranormal saja banyak yang belajar, tentu andapun bisa menguasainya bahkan bisa memiliki kemampuan seperti paranormal. Namun inti dasarnya bukan mengajari untuk jadi dukun atau paranormal justru bagaimana anda kembali pada jalan yang benar guna mempelancar segala urusan dan keperluan pribadi anda, jika memiliki kemampuan spiritual gunakan untuk diri sendiri terlebih dahulu dan berguna untuk melindungi keluarga dan syukur bermanfaat untuk orang disekitar anda.
Semoga adanya posting ini menjawab Benarkah Syekh Siti Jenar Mengajarkan Ilmu Kejawen? itu benar adanya. Dan sebagai generasi penerus kita wajib nguri-nguri ajaran budaya leluhur yang kini sudah banyak ditinggalkan bahkan dimodifikasi oleh oknum yang tertentu yang hanya mengambil kaweruh ilmu dari buku kitab primbon yang sebenarnya bisa anda beli ditoko buku bahkan dipedagang kaki lima, jika ilmu seperti itu yang anda dapati jangan menyesal jika anda gagal, dapatkan ilmu yang asli dan murni sebab ilmu asli tidak ribet dan banyak aturan, itu bisa anda temukan DISINI, jika ilmu pasaran bahkan ilmu primbon anda bisa mencari di online jika anda rangkum bisa satu buku, namun itu ilmu wawasan dan katanya, jangan belajar dengan ilmu katanya! Yang nulis juga belum tentu mengerti bahkan bisa jadi belum menguasai sudah main posting dari hasil jiplak buku, semua kembali pada diri anda yang meresponnya benar atau tidaknya. Belajar ilmu butuh bimbingan guru yang mumpuni dan paham betul dengan keilmuannya, niscaya akan membawa manfaat dalam kehidupan anda.

Benarkah Ajaran Syekh Siti Jenar Itu Sesat?

Benarkah Ajaran Syekh Siti Jenar Itu Sesat? Hal ini pernah ditanyakan oleh banyak orang. Tentu anda pernah berpikiran juga seperti itu, apakah Syekh Siti Jenar ajarannya sesat. Banyak artikel, buku bahkan film yang mengisahkan cerita tentang waliyullah yang satu ini. Bahkan kesimpang siuran cerita banyak versi yang beredar, itu syah-syah saja karena pendapat orang pasti berbeda-beda. Syekh Siti Jenar itu Sesat atau tidak sebenarnya tidak perlu dibahas, namun perlu diluruskan agar sejarah itu tidak menjadikannya suatu hal yang salah kaprah. Orang menganggap Ajaran Syekh Siti Jenar Itu Sesat? atau Syekh Siti Jenar Itu Sesat? Jawabnya Syekh Siti Jenar Itu Sesat memang Benar!!!
Andapun juga Sesat!!! Apalagi siapapun orangnya yang berani bilang Syekh Siti Jenar Itu Sesat?Kita semua memang Sesat, makanya kita harus kembali kejalan yang benar! Setiap hari kita Sholat wajib 5 waktu bahkan kita sholat sunah bukankah kita selalu memohon agar diberikan jalan yang lurus! Dalam sholat kita senantiasa membaca Al Fatehah termaktub ayat "Ihdinash Shiratal Mustaqim" yang artinya, "Ya Allah, Tunjukilah kami jalan yang lurus".
Berarti hidup kita belumlah lurus dan masih sesat dan penuh kemudharatan dalam hidup kita, wajarlar kita senantiasa membaca "Ihdinash Shiratal Mustaqim".

Mengamalkan "Ihdinash Shiratal Mustaqim" yakni permohonan berupa petunjuk ke jalan yang lurus mencakup tiga point. Antara lain:

Pertama, memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Masih banyak di antara petunjuk Allah yang belum kita ketahui. Kita tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki. Kita sering berdoa kepada Allah, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, lisan yang selalu basah berzikir, dan amal yang diterima.”
Kita juga meminta perlindungan kepada Allah dengan doa, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa yang tidak dikabul."
Sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu Islam? Sudahkah kita serius mempelajari dan memahami Alquran dan Hadis Nabi SAW, seperti pemahaman para sahabat Rasulullah?
"Ihdinash Shiratal Mustaqim." Kita ucapkan benar-benar dari hati. Bukan sekadar basa-basi atau main-main. Doa tersebut perlu pembuktian.

Kedua, kita memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam mengamalkan ilmu yang telah Allah karuniakan. Di antara doa yang sering kita panjatkan, "Ya Allah, bantulah aku untuk dapat mengingat-Mu, untuk dapat mensyukuri nikmat-Mu, dan untuk dapat beribadah kepada-Mu dengan baik."
Tidaklah menjadi jaminan seseorang yang telah mengetahui kebenaran itu mengamalkannya. Ada faktor-faktor yang menghalangi seseorang untuk mengikuti kebenaran meskipun ia tahu dan berilmu.

Hasud, sombong, cinta harta, cinta kedudukan, cinta kepada lawan jenis, ambisi kekuasaan, fanatisme kepada suku, kelompok, kampung halaman, nenek moyang dan adat istiadat, itu semua dapat menghalangi seseorang untuk mengikuti kebenaran. Hal itu juga dapat menjerumuskan seseorang pada jalan yang dimurkai Allah (sesat). Diperlukan kejujuran, kesabaran, dan kebesaran jiwa serta keberanian untuk merenung, mengevaluasi, dan segera memperbaiki diri. Setan akan selalu berusaha untuk menghiasi agar kita memandang indah kebatilan dan untuk mencari-cari dalil sebagai pembenaran. Akan tetapi, nurani kita tidak bisa dibohongi. Mintalah kepada Allah agar memberi kekuatan kepada kita dalam mengekang hawa nafsu dan melawan godaan setan yang terkutuk.

Ketiga, kita memohon kepada Allah untuk meneguhkan hati agar tetap istiqamah sampai akhir hayat. Hati manusia mudah berbolak-balik. Pagi hari beriman, sore bisa menjadi kafir. Hari ini bersih dan ikhlas, besok bisa ternoda dan berubah niat.
Di antara doa yang kita mintakan kepada Allah, "Ya Rabb, janganlah Engkau palingkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau beri hidayah kepada Kami, berilah untuk kami rahmat (kasih sayang) dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali Imran [3]: 8).
Rasulullah SAW sering berdoa, "Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku agar selalu (istiqamah) berada di atas jalan (agama) Mu."

Ketiga poin tersebutlah tercakup dalam "Ihdinash Shiratal Mustaqim", dan sesungguhnya kita semua berada dalam kesesatan yang nyata, maka kita harus kembali ke jalan yang benar. Tidak perlu menuding orang sesat sedangkan diri kita sendiri juga belum benar. Lebih pada rasa intropeksi diri, jangan main tuding menganggap orang sesat agar dilihat orang banyak bahwa kita sendiri yang paling benar. Sungguh itu hal yang merugi, terlebih debat kusir soal aliran agama, kembali pada Al Quran dan Hadist Rasulullah.

Benarkah Ajaran Syekh Siti Jenar Itu Sesat?
Berikut tanya jawab kami dengan budayawan jawa tengah yakni R.Tjakra Djajaningrat yang masih keturunan dari Syekh Siti Jenar dari jalur ayahnya bapaknya. Syekh Siti Jenar adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Memang terkait asal-usul serta sebab kematian Syekh Siti Jenar tidak diketahui dengan pasti karena ada banyak versi yang simpang-siur mengenai dirinya dan akhir hayatnya. Demikian pula dengan berbagai versi lokasi makam tempat ia disemayamkan untuk terakhir kalinya. Adapula suatu kisah yang dituturkan oleh R.Tjakra Djajaningrat yang mengisahkan Syekh Siti Jenar korban politik masa mendirikan kerajaan Demak, dianggap pengkhianat lantaran melawan penguasa Kerajaan Demak yang didukung oleh dewan Wali Songo, karena kesuksesannya mengIslamkan orang-orang/ tokoh dari Kerajaan Majapahit, tentu dianggap penghambat berdirinya kerajaan Demak Bintoro. Bila nantinya semua orang Majapahit banyak yang masuk Islam semua tentu ini menjadi masalah besar, karena tahta kepemimpinan tidak beralih pada Raden Fatah. Dengan itulah Syekh Siti Jenar harus disingkirkan agar tujuan utama mendirikan kerajaan islam demak bisa segera terwujud. Dan apa yang diajarkan dijadikan alasan utama bahwa Syekh Siti Jenar mengajarkan kesesatan. Setiap Wali di era itu memiliki cara sendiri-sendiri untuk mensyiarkan islam, yakni mengawinkan budaya dan agama.

Syekh Siti Jenar  mengajarkan pemahaman Manunggaling Kawula Gusti pada syiarnya agar orang jawa yang berkeyakinan paham animisme dan dinamisme juga beragama hindu mau masuk agama islam. Sebab pola pikir orang jawa tempo dulu memuja pohon atau batu meminta kesaktian, berkah dsb. Sebagai seorang waliyullah tentu prihatin dengan melihat kemusyikan waktu itu, dan bagaimana syiar yang tepat agar orang mau masuk islam. Karena kehidupan orang jawa tak lepas dari ngelmu kebatinan tentu hal kebatinannya yaang harus dibenahi. Bukan lagi menyebut dewa dewi tapi menyebut Allah SWT.
Dengan hal itu banyak orang yang masuk islam karena untuk berhubungan dengan Tuhan tidak perlu memakai sesaji, dan lelaku yang neko-neko cukup membaca 2 kalimah syahadat dan bersembahyang menyebut nama Allah yang disebutnya sholat daim. Dengan sholat daim orang akan berdzikir keluar masuknya nafas mengingat Allah selalu. Untuk pemahaman syairat di ajarkan pelan-pelan. Hal inilah dianggap salah oleh dewan Wali Songo karena pemahaman seperti ini bisa menyesatkan untuk orang yang baru masuk islam. Sehingga Syekh Siti Jenar harus dihukum atas perbuatannya ini karena mengajarkan hal diluar syariat. Tentu ini hanya sebagai alasan semata karena ditebengi politik dimasa itu untuk merebut kekuasaan kerajaan Majapahit agar Demak bisa berdiri sendiri sebagai kerajaan islam tanpa bayang-bayang pemerintahan dari Majapahit. Tentunya untuk hal itu dibutuhkan pengorbanan termasuk Syeh Siti Jenar harus disingkirkan. Sebenarnya dewan Wali Songo tidak menyalahkan hal itu, sebab syiar Syeh Siti Jenar bukan mengajarkan hal sesat tetapi justru meluruskan pola pikir yang salah kaprah dari orang-orang jawa penganut ilmu kebatinan yang memuja dedemit penghuni batu/ pohon, dsb. Dewan Wali Songo terpaksa melakukan hukuman mati pada Syeh Siti Jenar agar tidak ada penghalang berdirinya kerajaan Demak dan perebutan tahta Majapahit agar berjalan dengan lancar.
Demikian kisah Syekh Siti Jenar, jadi sekarang beliau sesat atau tidaknya sudah terjawab, dan semua dikembalikan pada pendapat diri anda sendiri.

Manuggaling Kawula Gusti

Manuggaling Kawula Gusti adalah Ajaran Syekh Siti Jenar untuk mengenal Allah SWT. Kita akan bahas sekelumit tentang Syekh Siti Jenar.
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti.
Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran- ajarannya telah berhasil mensyiarkan islam pada orang-orang penganut aliran kebatinan kejawen. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah pemahaman budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi demikian itu yang akhirnya dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan syiar islam dari Syekh Siti Jenar dengan Walisongo ditebengi dengan kepentingan politik (perebutan tahta majapahit), sehingga puncak dari kisah tersebut Syekh Siti Jenar harus disingkirkan dan dihukum.

Dalam ajarannya, Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.
Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti‘ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya (Shaad; 71-72)”). Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.
Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.
Menurut R.Ng. Ranggawarsita (1802-1873) : Pokok keilmuan Syekh Siti Jenar disebut sebagai “Ngelmu Ma’rifat Kasampurnaning Ngurip” (ilmu ma’rifat kesempurnaan hidup [the science of ma’rifat to attain perfection of life]). Ranggawarsita menyebutkan basis ilmiah ajaran tersebut adalah renungan filsafat yg bentuk aplikasinya adalah metafisika dan etika.

Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni dan antropologi. Ontologi berbicara tentang Ada dan tidak ada. Dalam hal ini, Syekh Siti Jenar merumuskan tentang the Reality of the Absolute being (hakikat Dzat Yang Maha Suci) yg memiliki sifat, nama dan perbuatan “Kami”. Dari “Kami” inilah kemudian muncul “ada” dan “keadaan” lain, yg sifat hakikinya adalah “Tunggal”.

Manusia yg dalam hidupnya di alam kematian dunia ini disebut sebagai khalifatullah (wakil Allah=pecahan ketunggalan Allah), dan kemudian ia harus berwadah dalam bentuk jisim (jasmani) ia harus menyandang gelar “kawula”, sebab jasad harus melakukan aktivitas untuk memelihara jasadnya dari kerusakan dan untuk menunda kematian yg disebut :”ngibadah” kepada yg menyediakan raga (Gusti). Maka kawula hanya memiliki satu tempat kembali, yakni Allah, sebagai asalnya. Maka manusia tidak boleh terjebak dalam wadah yg hanya berfungsi sementara sebagai “wadah” Roh Ilahi. Justru Roh Ilahi inilah yg harus dijaga guna menuju ketunggalan kembali (Manunggaling Kawula Gusti).

Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.

Hamamayu Hayuning Bawana berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.
Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).
Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.
Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia.
Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan.
Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”.
Keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.

Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).

Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).

Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan:
1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll);
2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.

Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syech Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Bab Manuggaling Kawula Gusti:

Bab Pertama:
“Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.”
Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”
Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.
Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.

Bab Kedua:
“Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”
Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.
Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.

Bab Ketiga:
“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”
Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.
Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.
Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.

Bab Keempat:
“Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil “Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)”, yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil “Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)”, maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi”, yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”
Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan.

Bab Kelima:
“Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah. Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”
Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati.
Semoga yg ini bermanfaat dalam kepasrahan yg tidak bisa dipikir dgn Akal tapi dengan Hati yang sulit mengungkapkan rasa Cinta itu secara Tulus….
Walaupun rasa Cinta itu sulit diungkapkan dgn bahasa kita yg sangat terbatas ini…..amin….amin.

Surga dan Negara Syekh Siti Jenar
“anal jannatu wa nara katannalr al anna”, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini). Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia. Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan ……ilaihi raji’un, ilaihi al-mashir………

Makna Ihsan inilah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”
“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.
Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.
Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.
“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”
Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oelh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).
Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.

Pribadi adalah pancara roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia. Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi. Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.

Tanya Jawab Ajaran Syekh Siti Jenar

Tanya Jawab Santri dengan Syekh Siti Jenar
Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.
Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.
Suatu ketika Syeh Siti Jenar mengajarkan ilmu kepada para murid-muridnya. Syeh Siti Jenar berkata,”Manusia harus berpegang pada akal, meyakini pula dua puluh sifat yang dimiliki Allah”. Antara lain yakni; wujud, tak berawal, tak berakhir, berlainan dengan barang baru, berkuasa, berkehendak, berpengetahuan, memiliki ilmu secara hakikat dan sebagainya.

Para santri mengajukan pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut:

M (murid) ; Apakah wujud dari Tuhan itu dapat dimiliki oleh manusia ?”
S (Syeh Jenar) ; Memang, sifat wujud itu bisa dimiliki manusia dan itulah inti dari ajaran ini. Selama manusia mampu menjernihkan kalbunya, maka ia akan mempunyai sifat-sifat itu. Sifat tersebut pun sudah kumiliki. Kalian bisa melakukannya dengan mengamalkan apa yang hendak kuajarkan. Allah adalah satu-satunya yang wajib disembah. Dia tidak tampak dan tidak berbentuk. Tidak terlihat oleh mata. Sedangkan alam dan segala isinya merupakan cerminan dari wujud Allah yang tampak. Seseorang bisa meyakini adanya Allah karena ia melihat pancaran wujudNya melalui jagad raya ini. Allah tidak berawal dan berakhir, memiliki sifat langgeng, tak mengalami perubahan sedikitpun. Allah berada di mana-mana, bukan ini dan bukan itu. Dia berbeda dengan segala wujud barang baru yang ada di dunia.
M ; Wahai Kanjeng Syeh, jelaskan kepada kami tentang hakikat kodrat !”
S ; Kodrat adalah kekuasaan pribadi Tuhan. Tak ada yang menyamainya. KekuatanNya tanpa sarana. kehadiranNya berasal dari ketiadaan, luar dan dalam tiada berbeda. Tak dapat ditafsirkan. Jika engkau menghendaki sesuatu maka pasti kalian rencanakan matang-matang dan pasti pikirkan berulang-ulang. Itupun masih sering meleset. Namun Allah tidak demikian, bila menghendaki sesuatu tak perlu dipersoalkan terlebih dahulu.
M ; Kalau begitu Allah tidak memerlukan sesuatu ?
S ; Benar Allah tidak memerlukan sesuatu. Karena itu jika kalian hidup tanpa memerlukan sesuatu, tanpa butuh harta benda, tanpa butuh jabatan, tanpa butuh pujian, maka kalian akan merasakan hidup yang sesungguhnya. Kalian akan memiliki sifat Allah tersebut.
M ; Kalau manusia menghindari sesuatu dan merasa tidak memerlukan apapun, apakah akhirnya dapat disamakan dengan Allah ?
S ; Tidak ! walaupun manusia hidup tanpa bergantung sama sekali kepada duniawi, namun ia tetap berbeda dengan Allah. Tidak bisa disamakan dengan Tuhan. Allah adalah pencipta dan kalian adalah yang diciptakan. Allah berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan. Hidupnya tanpa roh, tidak merasa sakit dan kesedihan, Allah muncul sekehendaknya.
M ; Jika Allah berkehendak, maka apakah kehendak seseorang itu karena kemauan Allah ?
S ; Untuk sampai pada jawaban itu, kita harus membedakan seseorang mana. Manusia itu dibedakan menjadi beberapa tingkatan. Ada yang awam, ada yang khowash. Orang awam hanya beribadah secara syariat, tanpa dapat memelihara kalbu, maka ia masih jauh bisa berhubungan dengan Allah. Sedangkan orang-orang khowash, termasuk para nabi, rasul, dan waliyullah, mereka beribadah secara utuh. Bahkan sampai pula pada tingkatan hakikat. Kalau kalbunya sudah bersih dari duniawi dan menyatu dengan cahaya Ilahi, maka kehendak dan kemauannya itu berasal dari Allah. Perbuatannya adalah perbuatan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang diberi karomah sehingga segala ucapannya menjadi bertuah.
M ; Kalau begitu, ibadahnya orang yang sudah khowash itu merupakan kehendak Allah ?
S ; Benar ! mereka mempunyai kejernihan akal budi. Memiliki kebersihan jiwa dan ilmu. Shalat lima waktu dan berzikir merupakan kehendak yang sangat dalam. Bukan kehendak nafsunya, namun kehendak Allah. Semangatnya sedemikian besar. Mereka shalat tidak mengharapkan pahala, tetapi merupakan suatu kewajiban (diri) dan pengabdian. Badan haluslah yang mendorong untuk menjalankan.
M ; Banyak orang melakukan shalat tetapi tidak menyentuh kepada Yang Disembah. Ini bagaimana ?
S ; Memang banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya ramai oleh urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah/daging kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk ? masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan,…..aneh!
M ; Wahai Syeh, ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Ini bagaimana ?
S ; Itu perlu ditafsirkan. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut; Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya. Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang.
M ; Apakah ada tuntunan mengenai pakaian seseorang yang sedang melakukan sembahyang ?
S ; Sesungguhnya aku (Syeh Siti Jenar) tidak sependapat jika ada orang yang mengenakan pakaian gamis dan meniru-niru pakaian orang Arab dalam melakukan shalat. Jika selesai shalat, jubah atau gamis itu dilepaskan. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya tipe orang seperti itu sibuk menghitung pahala. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.
M ; Dzat Yang Luhur dan Sejati itu sesungguhnya siapa, wahai Syekh ?
S ; Gusti Allah. Gusti Allah adalah Dzat yang tinggi dan terhormat. Ia memiliki dua puluh sifat, semua timbul atas kehendakNya. Ia mampu mencurahkan ilmu kebesaran, kasampurnan, kebaikan, keramahan, kekebalan dalam segala bentuk, memerintah umat. Dapat muncul di segala tempat dan sakti sekali. Aku (Syekh Siti Jenar) merasa wajib dan menuruti kehendakNya. Sebagaimana ajaran jabariyah, dengan kesungguhan dan konsekuen, selalu kuat cita-citanya, kokoh tak tergoyahkan terhadap sesuatu yang tidak suci, berpegang teguh kepadaNya selama hidup, tak akan menyembah terhadap ciptaanNya, baik dalam wujud maupun dalam pengertian.
M ; Mengapa Kanjeng Syekh dianggap oleh para wali sebagai wali murtad ?
S ; Karena ajaranku tidak mudah dipahami orang awam.
M ; Bagaimana ajaran Kanjeng Syeh yang dianggap sesat ?
S ; Aku adalah penjelmaan dari Dzat Luhur, yang memiliki semangat, sakti, dan kekal akan kematian. Dengan hilangnya dunia Gusti Allah telah memberi kekuasaan kepadaku dapat manunggal denganNya, dapat langgeng mengembara melebihi kecepatan peluru. Bukannya akal, bukannya nyawa, bukan penghidupan yang tanpa penjelasan dari mana asalnya dan kemana tujuannya.
M ; Apa hubungannya antara kanjeng Syeh Siti Jenar dengan Allah, yang kau sebut sebagai Dzat sejati ?
S ; Dzat yang sejati menguasai wujud penampilanku. Karena kehendakNya maka wajarlah jika aku tidak mendapat kesulitan. Aku bisa berkelana ke mana-mana. Tidak merasa haus dan lelah, tanpa sakit dan lapar, karena ilmu kelepasan diri, tanpa suatu daya kekuatan. Semua itu disebabkan jiwaku tiada bandingannya. Secara lahiriah memang tidak berbuat sesuatu, tetapi tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allah) yang kuikuti, kutaati siang malam, yang kuturut segala perintahNya. Tiada menyembah Tuhan lain, kecuali setia terhadap suara hati nuraniku. Allah Mahasuci.
M ; Wahai Syeh jelaskan apa yang di maksud bahwa Allah itu Maha Suci?
S ; Allah Mahasuci itu hanyalah sebatas istilah saja. Merupakan nama saja. Sebenarnya hal itu dapat disamakan dengan bentuk penampilanku. Jika kalian melihatku, maka tampak dari luar sebagai warangka (kerangka), sedangkan di dalamnya adalah kerisnya (intinya) Hyang Agung, yang tak ada bedanya dengan kerangka. Tuhan itu wujud yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dilambangkan seperti bintang yang bersinar cemerlang. Sifat-sifatNya berwujud samar-samar bila dilihat, warnanya indah sekali seperti cahaya.
M ; Di manakah Tuhan berada ? kami membayangkan Dia ada di langit ke 7 dan bersemayam di atas singgasana layaknya raja.
S ; Siti Jenar mendadak tertawa. Setelah tertawanya reda, ia berkata, “Itu salah besar, itu kebodohan. Sesungguhnya Tuhan tidak berada di langit ketujuh dan tidak bertahta di singgasana atau arsy (Kursi). Bila kalian membayangkan demikian, maka hati kalian sudah musyrik. Berdosa besar. Karena kalian menyamakan Dia dengan raja atau dengan penguasa.
M ; Kami jadi bingung, Kanjeng Syekh, lantas Tuhan itu ada di mana ?
S ; Kalau kalian bertanya demikian, maka jawabnya mudah. Gusti Allah itu tidak kemana-mana, tetapi ada di mana-mana.
M ; Kami semakin tak mengerti. Bisakah Kanjeng Syeh memberi penjelasan yang lebih gamblang ?
S ; Gusti Allah itu berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh. Dia bersemayam di dalam tubuh kita. Tetapi hanya orang yang khowash, orang yang terpilih dapat melihat. Tentunya dengan mata batin. Hanya mereka yang dapat merasakannya.
M ; Apakah Allah itu berupa roh atau sukma ?
S ; Bukan roh dan bukan sukma. Allah adalah wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dilambangkan seperti bintang-bintang bersinar cemerlang. Sudah kukatakan tadi, warnanya indah sekali. Ia memiliki dua puluh sifat seperti; sifat ada, tak berawal, tak berakhir, berbeda dengan barang-barang yang baru, hidup sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari sesuatu, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, berilmu, hidup dan berbicara. Sifat Gusti Allah yang duapuluh itu terkumpul menjadi satu wujud mutlak yang disebut dengan Dzat. Sifat duapuluh itu juga menjelma pada diriku. Karena itu aku yakin tidak akan mengalami sakit dan sehat, punya budi kebenaran, kesempurnaan, kebaikan dan keramahan. Roh ku memiliki sifat duapuluh itu, sedangkan ragaku yang lahiriah memiliki sifat nur Muhammad.
M ; Wahai Syekh, bukankah Muhammad SAW itu seorang nabi. Apakah Syekh mengaku sebagai Nabi ? Sedangkan dikatakan bahwa setelah nabi Muhammad, di dunia ini tidak ada kenabian lagi ?
S ; Jangan salah menafsirkan kata-kataku. Jika salah, maka kau akan sesat dan timbul fitnah. Tentu saja memfitnah diriku. Begini, bahwa rohku adalah roh Ilahi. Karena aku pun memiliki sifat duapuluh. Sedangkan badan wadag ku, jasadku ini, adalah jasad Muhammad. Dari segi lahiriah Muhammad adalah manusia. Namun manusia Muhammad berbeda dengan orang kebanyakan. Muhammad memiliki jasad yang kudus, yang suci. Aku dan dia sama-sama merasakan kehidupan, merasakan manfaat panca indera. Dan panca indra itu hanyalah meminjam. Jika sudah diminta kembali oleh Pemiliknya akan berubah menjadi tanah yang busuk, berbau, hancur dan najis. Nabi atau wali, jika sesudah kematian jasadnya menjadi tak bermanfaat. Bahkan berbau, kotor, najis, busuk dan hancur. Warangka jika sudah ditinggalkan kerisnya maka tiada guna.
M ; Jika seseorang sudah mati, berarti selesai sudah kehidupannya ?
S ; Siapa bilang begitu ? Tidak ! meskipun jasadnya mati, tetapi sebenarnya ia tidaklah mati. Karena itu, kalian semua harus mengerti bahwa dunia ini sesungguhnya bukanlah kehidupan. Buktinya ada mati. Di dunia ini, kehidupan disebut kematian. Coba rasakan ! Aku mengajarkan kepada kalian untuk tidak menyintai dunia ini dan tidak terpesona terhadap keindahannya. Carilah kebenaran dan kebahagiaan sejati demi kehidupan mendatang, kehidupan setelah kematian. Kalian akan berarti jika telah menemui kematian dan hidup sesudah itu. Engkau harus memilih hidup yang tak bisa mati. Dan hidup yang tak bisa mati itu hanya kalian rasakan setelah nyawa terlepas dari badan. Kehidupan itu akan dapat dirasakan dengan tanpa gangguan seperti sekarang ini. Ketahuilah, hidup yang sesungguhnya adalah setelah nyawa lenyap dari badan.
M ; Agar dapat meraih kehidupan dalam kemuliaan sejati kelak, dalam kehidupan di dunia ini dibutuhkan kebenaran dan kebahagian sejati. Bagaimanakah cara mendapatkannya Kanjeng Syekh ?
S ; Jiwa manusia adalah suara hati nurani. suara hati nurani merupakan ungkapan Dzat Allah yang harus ditaati perintahnya. Maka ikutilah hati nuranimu.
M ; Bagaimana caranya meyakinkan bahwa suatu bisikan adalah suara hati nurani yang sesungguhnya ?
S ; Kalian harus cermat, karena hati nurani berbeda dengan akal budi, jiwa itu milik Allah, sedangkan akal milik manusia. Akal bersifat manusiawi, karena itu kadang-kadang akal tak mampu menemukan keajaiban Allah. Kehendak, angan-angan, ingatan, merupakan suatu akal yang tak kebal atas kegilaan. Suatu ketika akal bisa menjadi bingung sehingga membuat seseorang lupa diri. Akal seringkali tidak jujur. Siang malam membuat kepalsuan demi memakmurkan kepentingan pribadi.
M ; Bukankah manusia menjadi lebih mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia diberi akal oleh Allah ?
S ; Ya, itulah yang membedakan. Tapi jangan lupa bahwa akal seringkali tidak jujur. Sering bersifat dengki, suka memaksa, melanggar aturan, jahat, suka disanjung-sanjung, sombong, yang ahirnya membuat manusia justru tidak berharga samasekali. Lebih hina dari makhluk lainnya.
M ; Jadi kita harus menggunakan akal sesuai dengan jiwa atau kehendak Allah ?
S ; Ya, benar. Jika seseorang mampu mengendalikan akalnya dengan ajaran Allah, dengan kebenaran, dan dengan jiwa yang bersih, maka ia bermanfaat. Menjadikan diri lebih mulia.
M ; Apa yang menghalangi seseorang sehingga gagal dalam dalam menempuh manunggaling kawula-Gusti ?
S ; Jangan mementingkan kehidupan duniawi. Sebab kehidupan duniawi yang kalian jalani penuh kotoran. Akal kalian mudah tercemar dengan kotoran sifat dan mudah dikuasai oleh nafsu, sehingga menghalangi kalian untuk bisa menuju pada tahap manunggaling kawula-Gusti.
M ; Di dunia ini ada yang cantik, tampan dan gagah. Bagaimana kedudukan orang-orang tersebut jika kelak telah terlepas rohnya ?
S ; Kalian jangan menyintai dan mengagumi bentuk yang cantik, tampan atau gagah. Sebab sebenarnya badan wadag (jasad) laksana sangkar yang mengurung jiwa. Badan wadag merupakan beban yang memberatkan dan menyakitkan roh kalian.
M ; Wahai Syekh, benarkah sesudah kematian ada surga neraka ?
S ; Para wali memang mengajarkan demikian. Inilah ajaran yang justru menurutku menyesatkan karena terlalu dangkal. Para wali hanya mengajarkan “serabut” atau kulitnya, tidak sampai pada isinya; tidak sampai pada hakikat yang sebenarnya. Para wali mengajarkan bahwa surga dan neraka hanya dijumpai kelak setelah kiamat. Adanya di akherat. Dan orang-orang awam menelan mentah-mentah keterangan itu. Siksa kubur hanya dijumpai dan dirasakan badan wadag ketika di tanam di kuburan. Para wali memang bertujuan baik, tetapi diputus sampai di situ. Mereka enggan menjelaskan lebih dalam dan lebih sampai pada makna yang hakiki.
M ; Kalau menurut Syekh bagaimana ?
S ; Begini, untuk menemui dan merasakan surga dan neraka maka seseorang tidak harus menunggu sampai mati atau sampai datangnya kiamat. Di dunia ini saja kita sudah dapat merasakan surga dan siksa neraka. Karena sesungguhnya surga dan neraka itu berada di dalam jiwa kalian. Berada di dalam jiwa setiap manusia yang bernafas. Jika jiwa manusia telah bersih dari gangguan hawa nafsu dan dapat menyatu dengan Gusti Allah, maka di dunia ini ia akan merasakan suatu kenikmatan surga. Jika budi kalian, misalnya menolong orang lemah, lalu hati menjadi ikhlas dan puas, maka itulah yang disebut surga. Sedangkan neraka, perwujudannya adalah jika hawa nafsu telah menguasai diri seseorang. Kemudian jiwanya meronta dan merasa bersalah. Maka dia tentu tersiksa. Ia tidak bisa tidur, gelisah pikirannya, sedih dan bermacam-macam rasa tak enak. Itulah yang dinamakan neraka.
M ; Jadi surga dan neraka di akherat tidak berlaku ? maksud kami tidak ada ?
S ; Surga dan neraka di hari kiamat, di akherat kelak, sudah diterangkan dalam Al Quran. Itu perkara gaib dan erat kaitannya dengan iman. Kalian harus meyakininya.
M ; Untuk apa meyakini ? bukankah jika di dunia berbudi baik dan beriman kepada Allah sudah merasakan surga. Sedangkan surga dan neraka di akhirat hanyalah bersifat menakut-nakuti manusia agar tidak berbuat buruk ?
S ; Pendapatmu memang cerdas dan kritis. Namun kalian tidak usah mempertanyakan, apakah kelak di akhirat ada surga dan neraka. Itu urusan Gusti Allah. Kalian harus meyakini. Karena meyakini hari akhir merupakan rukun iman. Sekali lagi, untuk mendapatkan surga pun kalian tak perlu menunggu datangnya hari akhir. Meskipun seseorang sembahyang seribu kali setiap hari, toh akhirnya mati juga. Walaupun badanmu kau tutupi dengan kain surban dan jubah, namun akhirnya menjadi debu juga. Maka jiwalah yang paling penting. Jika keadaan jiwa seperti Tuhan, maka surga akan didapatkannya. Kenikmatan luar biasa akan dirasakan.
M ; Wahai Syeh, sesungguhnya yang menjadi pikiranku adalah sebelum ada dunia ini, apakah sudah ada dunia lainnya. Atau setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru lagi seperti sekarang ?
S ; Sebelum dunia ada, apakah ada dunia lain, itu hanya Allah yang tahu. Tetapi sekarang kita berada di dunia ini menempati ruang dan waktu. Dunia ini asalnya adalah baru. Kemudian mengalami kerusakan dan kelak akhirnya menjadi hancur. Lenyap tak berharga. Setelah kiamat, apakah Tuhan membuat dunia baru untuk keduakalinya ? Tidak !
M ; Wahai Syekh, kalau begitu dunia erat kaitannya dengan raga kita, sedangkan jiwa erat kaitannya dengan alam akhirat ?
S ; Benar, dunia itu erat kaitannya dengan raga. Raga mempunyai sifat seperti alam semesta, yang semula baru kemudian rusak. Sedangkan jiwa tidak akan mengenal kerusakan karena jiwa merupakan penjelmaan Dzat Allah. Ketahuilah bahwa raga adalah barang pinjaman yang suatu saat akan diminta oleh Pemiliknya. Ketahuilah wahai murid-muridku. Raga ini sesungguhnya sangkar yang membelenggu dan menyulitkan jiwa. Agar jiwa menjadi bebas, maka suatu saat kelak, kalian akan kuajarai bagaimana cara melepas jiwa dari raga. Ilmu melepas jiwa artinya bahwa kematian adalah titik awal kehidupan yang sebenarnya. Jika seseorang raganya mati, maka jiwanya menjadi merdeka, bebas dan tidak terkungkung lagi. Sebab raga berhubungan erat dengan alam semesta. Sedangkan jiwa berhubungan erat dengan Dzat Tuhan. selamanya jiwa tak akan bisa mati atau rusak.
M ; Apakah yang dimaksud jalan kehidupan, wahai Syekh ?
S ; Jalan kehidupan adalah jalan menuju kepada hidup yang sebenar-benarnya, setelah engkau mengalami kematian. Jika seorang bayi lahir, maka bukanlah awal kehidupan, namun merupakan awal “kehidupan palsu” seperti yang kalian rasakan saat ini. Inilah yang sesungguhnya kematian sejati.
M ; Jika demikian badan ini tidak bisa merasakan kehidupan yang sebenar-benarnya ?
S ; Ya, tidak bisa. Kehidupan sejati tidak dapat dirasakan oleh raga, karena jika raga mati akan tetapi dapat dirasakan oleh jiwa. Membusuk menjadi tanah.
M ; Bagaimana jika sekarang ini seseorang berbuat dosa. Apakah jiwanya ikut bertanggungjawab. Sedangkan yang melakukan dosanya adalah raga.
S ; Tetap ikut bertanggungjawab, karena jiwa yang menyatu ke dalam raga tidak bisa mencegah hawa nafsunya serta akal yang suka berbuat buruk.
M ; Maaf saya belum paham Syekh.
S ; Ketahuilah, setiap orang yang lahir di dunia ini maka jiwanya menyatu dengan akal. Selain akal dalam diri manusia juga ada hawa nafsu. Ketika seseorang berbuat buruk, berarti raganya didorong dan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan akalnya. Akal dan nafsu memang suka berbuat buruk. Apabila jiwa mencegah (melalui hati nurani), maka raga tidak akan berbuat buruk. Akan tetapi jika jiwa membiarkannya, maka raga tetap melakukannya. Karena itu bagaimanapun juga jiwalah yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan buruk raganya.
M ; Tadi Syekh mengatakan jiwa adalah penjelmaan dzat Tuhan. Mengapa kadang-kadang jiwa mau mencegah dan kadang membiarkannya ?
S ; Perlu kalian semua ingat, bahwa di dalam raga ini terdapat nafsu-nafsu. Jika nafsu kuat menguasai, maka jiwa menjadi terbelenggu. Karena itulah mengapa aku katakan bahwa kehidupan sekarang ini adalah kematian. Sedangkan setelah ajal merupakan awal kehidupan. Sesudah kematian maka seseorang akan mencapai kebebasan jiwanya.
Ajaran Syekh Siti Jenar memang agak beda dengan ajaran para wali sanga. Siti Jenar mengajarkan bahwa Tuhan adalah Zat yang mendasari adanya manusia, hewan, tumbuhan dan segala yang ada. Keberadaan segala di dunia ini tergantung pada adanya Zat. Tanpa ada Zat Yang Mahakuasa, maka mustahil sesuatu yang wujud itu ada.
Ajaran ini tidak pernah disampaikan oleh para Wali Sanga. Mereka menyadari bahwa umatnya masih terlalu awam terhadap Islam, sehingga memberi materi yang ringan dan praktis saja.

Artikel Syekh Siti Jenar